THE JOURNEY OF A BROKENHEARTED GIRL

Tulisan kali ini berisi tentang perjalananku pulang ke Solo, Sabtu (9/5) kemaren.

Minggu ini merupakan salah satu minggu terberatku. Dihimpit oleh 2 presentasi kelompok sekaligus (Militer&Politik n Pariwisata dalam HI) membuatku cukup tertekan lahir batin. Rasanya seperti ‘mati suri’ aja (lho, emang aku pernah mati suri???) Tapi sebenernya himpitan 2 paper kelompok itu ga ada apa2nya dibandingkan himpitan emosional yang harus kutanggung.

Harus kuakui baru2 ini aku mengalami sebuah perasaan konyol yang seharusnya hanya dirasakan oleh remaja2 yang sedang puber.

Yups, aku (lagi2) patah hati.

Dan salah satu solusi terbaik untuk itu adalah dengan mendekatkan diri kepada keluarga. Kebetulan peace camp matakuliah PIM (Politik Identitas & Multikulturalisme) diundur, so mending aku manfaatin bwt pulang aja. Terkesan seperti mau melarikan diri dari masalah ya? Kalo iya, emang kenapa? Saat ini aku bener2 butuh waktu bwt “menyepi”, menenangkan diri. Dan menurutku rumah adalah tempat terbaik untuk itu. Paling ga, di rumah ga akan ada yang mengingatkanku tentang dia.

Namun, pulang ke Solo justru membuatku makin sedih. Setiap kali melihat bangunan Stasiun Tugu, ingatanku melayang ke peristiwa setahun yang lalu. Pengalaman pertamaku naik Prameks. Waktu itu aku ketakutan setengah mati coz seumur hidup belum pernah naik kereta api sebelumnya. Dan dia, yang kebetulan menemaniku di sana, berkata, “Jangan takut. Selalu ada kali pertama untuk segala sesuatu.”

Kata-kata itu terasa seperti sihir bagiku, membuatku berani untuk melanjutkan perjalanan. Bahkan sejak saat itu, setiap pulang ke Solo aku selalu memilih naik Prameks daripada naik bus.

Jam ‘raksasa’ di Stasiun Tugu menunjukkan pukul 8.15. Masih 15 menit lagi menuju keberangkatan keretanya. Tapi ternyata, Prameks-nya sudah siap sedia di jalur 5. Buru2 aku naik, biar dapet tempat duduk. Padahal niat awalnya mau beli french fries dulu, secara aku belum sarapan sama sekali. Tapi gpp deh, daripada kehabisan tempat duduk. Ga lucu kan kalo aku harus berdiri selama 45 menit cuma gara2 french fries. Trus, paling stand-nya juga belum buka secara ini masih pagi.

Ternyata Prameks yang kunaiki sekarang adalah Prameks model lama. Bukan kereta kuning lemon seperti biasanya tapi kereta putih lusuh dengan kursi model jadul, mirip dengan model tempat duduk kereta bisnis (tempat duduknya berhadap2an, bukan sejajar). Jenis Prameks yang sama seperti dengan yang kutumpangi pertama kali dulu.

Sial! Aku pun mengumpat dalam hari. Tuh kan! Jadi keingetan kenangan itu lagi.

Sial! Dan aku mengumpat sekali lagi. Kali ini bukan karena orang itu tapi karena sekarang ada seorang cewek yang berdiri di depan tempat aku duduk dengan posisi membelakangiku. Jadilah dia dengan suksesnya “mantatin” mukaku. Aaaarrrggh!

Awas aja kalo sampai kentut. Bakal aku sumpahin ga selamet 7 turunan. Becanda ding. Ga mungkin lah aku setega itu. Untunglah beberapa menit kemudian dia beranjak ke depan. Fuih! Senangnya bisa terbebas dari ancaman kena kentut orang.

Lepas dari ancaman kentut, ga menjamin aku bakal selamet dari ancaman lainnya. Dan kali ini aku justru terjebak pada pikiran2 itu lagi…

Aku sering ngalamin kegagalan (cinta?). Namun kegagalan2 itu tak lantas membuatku terpuruk coz setelah itu aku selalu belajar dari kegagalan agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Tapi entah kenapa, kegagalan kali ini terasa amat sangat menyesakkan. Karena aku bahkan ga tahu di mana letak kesalahanku. Sekeras apapun aku memikirkannya, tak satupun jawaban muncul.

Mungkin salah satu kesalahanku adalah membiarkan perasaanku terlibat terlalu jauh. Karena kupikir, aku telah beranjak dewasa sehingga sudah saatnya aku untuk serius dalam melakukan segala sesuatu, termasuk dalam mencintai seseorang.

Temen2 sering ngingetin sih, “Put, kalo suka ama seseorang tuh jangan berlebihan, ntar jadinya malah benci lho…” Tapi aku-nya malah ngeyel. Coz yang ada di otakku hanyalah “aku cinta dia”. Titik. Itu saja, tanpa embel2 lainnya.

Dan aku terpaksa menelan pil pahit akibat tindakanku ini. Jadilah aku seperti sekarang. Hancur lebur.

Tapi ga ada gunanya juga sih menyesali semuanya. Lha wong udah kejadian.

Aku ga peduli siapa yang salah, siapa yang bener. Itu dah ga penting lagi bwtku. Anggep aja semua salahku. Habis perkara.

Seperti kata Mbak Dewi Lestari, “Karena kaulah satu yang kusayang dan tak layak kau didera…”

Ah! Mungkin suatu hari aku akan menemukan orang yang tepat. Seseorang yang mau tertawa bersamaku. Seseorang yang mau ngertiin cara beropikirku yang beda dengan orang kebanyakan. Seseorang yang ga akan bosen makan Nutrijell coklat buatanku. He3x.

Eits! Ternyata Prameks-nya dah nyampe Stasiun Purwosari. Saatnya bwt siap2 turun. Abis itu nyegat bus Atmo trus sampai rumah deh. Saatnya untuk bersenang2 bersama keluarga.

Semoga setelah ini aku bisa melupakanmu.

Karena kutahu aku pasti bisa melupakanmu.

Atau mungkin lebih tepatnya, aku harus bisa melupakanmu.

Let’s move on, Put!

2 Tanggapan

  1. Hwaa… poepoet… berjuang yah, wat ngelupain dya, masih banyak orang yang “lebih” dibanding dya wat kamu, hehehehehe… \\(^o^)//
    Ayo…ayo… qta semua bakal dukung kamu kok….

  2. Mba jgn patah hati dunk..

Tinggalkan Balasan